Mencari Bahagia

Enshaallah, gham-e akhareton bashe (Semoga ini adalah kesedihan terakhirmu)

foto buku

Begitu, diantara pesan masuk dari  teman saya orang Iran saat mendengar kabar saya dioperasi, beberapa waktu lalu. Ucapan ini memang biasa diungkapkan saat ada teman atau kerabat mendapat musibah. Tapi mungkinkah hidup ini berjalan tanpa kesedihan, tanpa ujian, tanpa air mata? Bukankah kebahagiaan dan kesedihan itu ibarat roda pedati yang akan berputar silih berganti. Saya melihat ada pesan tersembunyi di balik kalimat itu. Ujian dan musibah bisa saja datang dan pergi, tapi semangat untuk menjemput kebahagiaan hari esok tidak boleh sirna.

Pesan itu masih terasa samar, setidaknya sampai beberapa hari lalu. 40 hari ‘mengeram’ diri bagi pejalan seperti saya memang bukan hal mudah. Berapa banyak acara yang batal, tugas-tugas yang terabaikan, dan target yang berserakan. Meski ini bukan kesengajaan, tapi tetap saja menyisakan kekecewaan. Belum lagi dihunus rasa bosan yang tak terkira. Di saat seperti inilah, buku menjadi sahabat yang menyenangkan. Kembali saya buka buku-buku lama yang pernah saya baca, karena belum ada stok buku Bahasa Indonesia baru. Diantara buku yang saya baca ulang adalah buku Titik Nol, milik mas Agustinus Wibowo.

Dan seperti sebuah kebetulan, sampailah saya di lembaran-lembaran cerita si penulis yang membuat hati saya tergugah. Di tengah pencapaian Agustinus menaklukan desa-desa tak terjamah di Pinggiran Pakistan dan India, setelah melewati ribuan kilo, tiba-tiba penyakit hepatitis datang menghampiri. Arti detik dan menit yang sangat berarti bagi seorang pejalan terhalang oleh dinding-dinding rumah sakit. Dilanda kejenuhan dan kebosanan yang luar biasa hebat. Tak tanggung-tanggung perlu waktu berbulan-bulan untuk kembali meniti perjalanannya. Tapi, di sanalah muncul perenungan yang luar biasa.

Pengalaman inilah yang melahirkan mantra-mantra hebat dalam tulisannya. Daya megis itu juga menelusup dalam alam pikiran saya, merasa terwakili oleh gambaran suasana hati penulis yang begitu menghujam. Terutama, saat kembali memunguti remah-remah kebahagiaan. Saat pagi hari membuka tirai jendela mendapati matahari bersinar terang ditemani nyanyian cicit dan lambaian pucuk-pucuk daun muda. Begitu indah. Begitu menyenangkan. Persis sama dengan apa yang saya rasakan. Lalu Agustinus menghipnotis dirinya dengan kalimat yang ia tulis:

Ada riset mengatakan orang yang berbahagia lebih merespon secara positif terhadap hal-hal kecil dan sepele, yang sering terlewatkan oleh orang lain. (Titik Nol, 318)

Lambat laun, saya pun mulai merasakan gelombang hipnotis itu. Mulai membuka mata perlahan dan menyadari ada hujan kebahagian yang dihadiahkan oleh orang-orang di sekitar saya. Ah…betapa selama ini saya kurang mensyukurinya. Saya mengenang kembali kebahagiaan yang saya rasakan; Berjalan-jalan di taman sekitar rumah, makan bersama di rumah makan kesayangan, mendapat hadiah notebook, dan hari ini pun, sebelum suami berangkat ke kantor, ia memeluk saya sambil berkata; “Maaf ya, hari ini tidak semua piring bisa ayah cuci” Ah…hati saya berembun. Untuk sesuatu yang bukan tugasnya saja, ia minta maaf. Kebahagiaan model apa lagi yang harus saya cari?

Cerita mencari kebahagian ini seperti kisah seekor ikan muda yang berenang menjelajah samudra, ia bertanya pada setiap ikan yang dijumpai, dimanakah laut? Seorang ikan senior memberi tahu bahwa inilah lautan. Ikan muda tadi tak percaya dan berkata: “Ini air, bukan laut” Dan ia terus berenang mencari laut yang sebenarnya telah ia rasakan sejak matanya terbuka ke dunia. Begitu juga, seringkali kita menghamburkan banyak energi untuk mencari kebahagiaan, padahal masalahnya kita tak pernah menyadari hal-hal menyenangkan di sekitar kita.

Ya, di depan sana mungkin masih banyak rintangan dan cobaan. Karena kesejatian hidup menuntut manusia untuk bertahan melewati kebahagiaan dan kesedihan. Tapi seperti pesan pepatah Persia di atas, tetaplah optimis dan jangan berhenti pada tangisan kesedihan.

Dalam Suguhan “Three Cup of Tea”

Seperti sebuah kebetulan, saya membaca buku ‘Three Cups of Tea’ di malam-malam jaga saat menemani putra saya yang sedang sakit. Energi yang dialirkan Mortenson dalam cerita-ceritanya di lembaran awal seakan menjelma menjadi sebentuk kekuatan tambahan. Terutama, saat tiba di edisi Christa yang mengharukan atau saat menemukan Mortenson yang dicengkram ‘kebuasaan’ alam Himalaya.

Di sela menyuapi si kecil, mengompres dan sesekali mendongeng, tangan saya tanpa dipandu seperti terus bergerak membuka lembar demi lembar sejurus dengan mata yang tak mau lepas dari bulir-bulir kata di depannya. Akibatnya, buku setebal 600 halaman ini bisa selesai hanya dalam waktu beberapa malam. Buku tersebut bercerita tentang usaha Mortenson untuk membuat sekolah di sebuah lembah terpencil Himalaya. Sejujurnya, jalan ceritanya cukup ‘menyihir’ kesadaran saya dan mungkin jutaan pembaca lainnya. Terlebih, karena ia sendiri bukan seorang kaya apalagi jutawan. Bahkan, ia rela melewatkan malam-malamnya di belakang jok mobil tua La Bamba miliknya dan menyantap sarapan di toko donat Kamboja seharga 99 sen, demi berhemat untuk ‘saudara’ barunya, warga Balti di Corphe, Pakistan Utara.

Berawal dari ketidaksengajaan, Mortenson menjejak tanah Corphe saat tersesat dalam kondisi kepayahan yang sangat, warga Balti lah yang menjadi dewa penolongnya. Keinginan balas budi inilah yang akhirnya membawa ia kembali ke desa terpencil di Utara Pakistan. Ia kini bermetamorforsis dari seorang tim medis pendakian menjadi pekerja sosial. Kisah demi kisah mengharukan terjadi saat ia mulai terjun langsung di pasar-pasar becek untuk mengumpulkan material bangunan, terguncang-guncang di atas truck di antara kelokan jalanan berkerikil dan masih sempat ditipu oleh ‘bandit’ lokal serta puluhan rintangan lainnya. Untunglah, pengalaman hidup sebelumnya sebagai pendaki ulung, pernah terlibat latihan militer keras dan keahliannya sebagai perawat jaga memberinya kekuatan untuk ‘menaklukan’ keunikan alam berikut masyarakat pedalaman Pakistan.

Sekolah ‘impian’ pun berhasil berdiri setelah menuntaskan ‘kewajiban’ membangun jembatan lebih dulu. Sekolah itu terus berjuang sampai meluluskan angkatan pertama, Jahan diantaranya. Cucu perempuan kepala desa itu, kini menjadi terpelajar dan siap menerima asupan ilmu yang lebih tinggi. Melihat photo Jahan, di benak saya segera terlintas wajah Ma’sumah, teman asal pedalaman Pakistan yang sama-sama menempuh paket bahasa Persia.

Tidak seperti teman-teman lainnya yang berasal dari Karachi atau Islamabad, ia terlihat lebih pemalu dan berperawakan kurus, namun sorot matanya menyimpan keinginan kuat. “Ayah saya kepala sekolah di sebuah desa terpencil, ia menginginkan saya suatu saat bisa menggantikannya” Ungkapnya suatu hari saat kami mulai dekat. Perjumpaan kami tidak lama, karena studi yang kami ambil berbeda. Sesekali saya pernah melihatnya saat berpapasan di pintu gerbang. Masih dengan tubuh yang ringkih dan wajah pucat, ia menggendong tumpukan buku. Kubayangkan malam-malamnya telah dipenuhi oleh ribuan aksara. Lima tahun saya tak mendengar kabarnya lagi, mungkin ia telah kembali ke negaranya dan menjadi gadis kebanggaan desa seperti Jahan.

Tidak banyak cerita yang ditinggalkan Ma’sumah tentang desa terpencil yang didiaminya. Hanya saja dari berbagai obrolan pendek, saya menangkap betapa ketegangan beragama sangat terasa di sana. “Orang bisa menodongkan pisau karena beda mazhab” Ujarnya suatu hari dengan nada sedih. “Itu karena ada sebagian orang yang baru belajar agama ke negara Arab, lalu saat kembali mereka menuding salah kepada semua orang yang berbeda dengannya” Jelasnya kemudian.

Mortenson dalam bukunya juga menyinggung soal ketegangan ini, menurutnya pemicu utama datang dari madrasah-madrasah yang ‘ditebar’ para juragan minyak dari Timur Tengah dengan ‘menjajakan’ agama barunya, warga Pakistan sering menyebutnya sebagai kaum wahabi. Bahkan, di sini bahasa yang digunakan Mortenson cukup keras, karena tujuan berikutnya mendirikan sekolah untuk memerangi kebodohan sebagai sumber terorisme. Sebagai seorang muslim, awalnya saya sempat tersinggung. Tapi, menyadari bahwa ada sebagian kelompok Islam yang memang berperilaku kerdil menyebar kebencian diantara umat, menghakimi keyakinan orang lain dan menghalalkan darah saudara seiman, hati saya tak kalah meradang.

Tapi, andai saja Mortenson juga tahu, pemerintahan dari negara asalnya itu ternyata ikut bertanggungjawab pada aksi-aksi serupa, seperti pengakuan pimpinan teroris, Abdolmalek Rigi yang belakangan beraksi di wilayah perbatasan Iran-Pakistan. Saat tertangkap, ia mengaku belajar militansi di negara Arab dan mendapat latihan militer dari pangkalan Amerika di teluk. Nampaknya, mortenson belum tuntas menyisir pangkal kekerasan. Selain kebodohan, di ujung lain ‘kekuasaan’ lah yang berpotensi lebih besar menebar kekisruhan di dunia.

Terlepas dari semua itu, usaha Mortenson untuk ‘memanusiawikan’ warga pedalaman Pakistan dengan seribu rintangan yang membentang memang cukup luar biasa, sekaligus yang membuat pembaca seperti saya menikmati setiap regukan dari suguhan “Three Cups of Tea”

Menelisik Nowruz, Tahun Baru ala Persia

Jam berdentang, tepat pukul dua dini hari. Langit Teheran yang seharian diguyur hujan, kini bertaburan kembang api dan petasan. Dari balik jendela kamar, terlihat lampu-lampu apartemen di seberang jalan menyala terang. Saya membayangkan, keluarga Iran yang sedang duduk mengelilingi meja berhias aneka kue, menyambut datangnya nowruz atau tahun baru Persia. Beberapa tahun lalu, saya pernah diundang menghadiri perayaan nowruz. Waktu itu, pergantian tahun terjadi pada sore hari. Pergantian tahun baru Iran dinamis. Tahun lalu, sekitar jam 8 malam dan tahun ini semakin bergeser hingga dini hari.

Satu Farvardin, bertepatan dengan 21 Maret, adalah penanggalan tahun baru Iran. Di Indonesia, kita sudah terbiasa mendengar tahun baru Masehi, tahun baru Hijriah, tahun baru Cina, dan tahun baru Saka. Tapi, bagi sebagian besar masyarakat kita, mungkin masih asing dengan istilah tahun baru Persia. Sebenarnya, tahun baru ini tidak hanya milik masyarakat Iran saja, penduduk negara-negara yang dulu di bawah pengaruh kekasairan Persia kuno juga bersuka cita merayakan Nowruz, seperti Afganistan, Tajikistan, Azarbeijan, Kyrgyzystan, Turkmenistan, bangsa Kurdi di sebagian wilayah Irak dan Suriah, Turki serta Pakistan. Bahkan, tradisi nowruz ini sudah terdaftar di UNESCO sebagai warisan budaya dunia sejak tanggal 23 Februari 2010. Selain itu, Nowruz juga menjadi hari raya penganut agama Bahai. Menurut peneliti Iran, Mehrdad Bahar, tradisi Nowruz sudah dirayakan tiga ribu tahun sebelum Masehi.

nowruz

Lalu, sejak kapan masyarakat Persia memiliki penanggalan sendiri? Kalau dilacak secara historis, kalender Iran sudah disusun jauh sebelum datangnya Islam, bahkan pra Masehi, yaitu sejak tahun 1725 sebelum Masehi. Seiring masuknya Islam ke dataran Persia, Omar Khayam, seorang matematikawan sekaligus astronom Muslim Persia, melakukan koreksi penanggalan yang disesuaikan dengan kalender hijriah. Tapi kalender Iran tetap mengikuti sistem kalender surya. Sekarang Iran memasuki Tahun 1394 setara dengan 1436 Hijriah. Begitu juga, nama bulan dalam kalender Iran tetap mempertahankan nama Persia kuno, seperti: Farvardin, Ordibehest, Khordad, Tir, Mordad, Shahrivar, Mehr, Aban, Azar, Day, Bahman, dan Esfand.

Tradisi Nowruz
Sebelum orang-orang Iran duduk manis menyambut tahun baru, ada serangkaian tradisi panjang yang mereka lewati. Dua minggu menjelang Nowruz, masyarakat Iran sudah sibuk bercerita kegiatan mereka melakukan Khaneh Tekani. Secara leksikal, Khaneh Tekaniadalah menggoyang rumah. Tapi maksud sebenarnya Khaneh Tekani adalah simbol membersihkan kotoran lahir dan batin dari rumah dan penghuninya untuk menyambut musim semi. Biasanya orang Iran menata ulang dekorasi rumah, dari sekedar mengganti warna cat, memindahkan posisi mebel, sampai mengganti barang-barang yang sudah tidak layak. Mereka ingin suasana rumah baru di tahun yang baru.

Hari-hari berikutnya mereka akan sibuk memilih berbagai hadiah untuk kerabat dan teman, membeli baju-baju baru, dan menyiapkan berbagai keperluan mudik. Di akhir penutupan tahun, sebagian besar orang Iran berziarah ke makam-makam kerabat maupun ulama. Mereka berharap dengan mengenang orang-orang salih (kalau di Indonesia mungkin para wali) akan mendapat keberkahan di tahun yang akan datang. Di sini, saya melihat banyak kesamaan dengan tradisi lebaran di Indonesia. Tapi, ada tradisi unik yang hanya terdapat dalam nowruz, yaitu haft sin.

suftre haft sin

Haft, dalam bahasa Persia berarti angka 7 yang dipercaya memiliki makna tersendiri. Sin, adalah salah satu huruf Persia dan Arab. Maksud haft sin, tujuh jenis makanan berawalan sin yang wajib ada dalam setiap perayaan tahun baru. Haft sin sendiri melambangkan filosofi nowruz. Ketujuh makanan tersebut antara lain: Sabze (tunas gandum), melambangkan kelahiran kembali dan kesuburan; Samanu (semacam dodol dari gandum), sebagai simbol kemakmuran; Sib (apel), menandakan kesegaran dan kecantikan; Sir(bawang putih), melambangkan kesehatan dan kedamaian; Serkeh (cuka), menandakan kelestarian, karena cuka mengawetkan makanan; Somagh (sejenis bumbu dapur dan obat), melambangkan kemenangan atas pengaruh jahat; Senjed (buah pohon lotus), sebagai simbol cinta dan perlindungan.

Selain tujuh jenis makanan itu, ada ornamen lainnya seperti ikan dan telur yang dihias sebagai simbol produktivitas dan kreativitas. Ada juga cermin dan lilin, yang melambangkan refleksi masa depan dan cahaya penerang. Satu lagi benda yang wajib ada adalah Quran sebagai lambang kesucian.

Pengalaman saya berkunjung ke acara tahun baru di Iran, biasanya satu atau dua jam menjelang pergantian tahun, mereka berkumpul mengelilingi meja. Setiap keluarga melakukan aktivitas yang beragam. Ada yang mengaji Quran, ada yang bergantian membaca puisi Hafez, ada juga yang hanya sekedar berbincang hangat. Tapi, semua mengakhiri kegiatan mereka dengan merapalkan doa-doa untuk kemudahan di tahun berikutnya. Sebenarnya yang menarik bagi saya, bukan seberapa unik acara nowruz, tapi bagaimana sisi budaya dan nilai agama bisa bertemu dan saling mengisi. Barangkali, inilah yang disebut Gus Dur sebagai upaya “kulturalisasi” agama.

Di Tanah Air tercinta, kita juga memiliki berbagai perayaan yang terinspirasi dari ajaran agama dan tradisi lokal seperti grebek maulid Nabi, syawalan, syukuran 7 bulan kehamilan, akikah, dan banyak lagi. Sayangnya, sebagian tradisi ada yang mulai jarang kita temui seperti peringatan bubur merah dan putih pada hari Asyura. Bukan hal yang mustahil, bila tidak dijaga dengan baik, kelak tradisi itu hanya akan menjadi cerita anak cucu kita. Sementara, beragama dengan mengabaikan tradisi, akan terasa kering.

Tampaknya, lestarinya tradisi Nowruz hingga kini sebagai bentuk dari “Pribumisasi Islam” di tanah Persia. Sebagaimana ditegaskan Gus Dur dalam “Islamku, Islam Anda dan Islam Kita”(2006:xvii), kejayaan Islam justru terletak pada kemampuan agama ini berkembang secara kultural.

Tulisan ini pernah dimuat di sini: http://www.gusdurian.net/id/article/pilihan-redaksi/Menelisik-Nowruz-Tahun-Baru-Persia/

Celoteh Anak tentang Tuhan

Di buku Stories of God, ada satu halaman yang memuat judul: Celoteh Anak tentang Tuhan.
Polos, unik, lucu, dan menyegarkan. Beberapa celoteh itu, misalnya:

Tuhan…apa kamu sengaja menciptakan bentuk jerapah seperti itu, atau hanya kebetulan?
Tuhan…siapa yang memberi garis batas negara?
Tuhan…tikus kecil di gurun itu saudaraku loh. Harusnya kamu memberinya ekor.
Tuhan…kapan aku bisa ketemu kamu, aku pengen nunjukin sepatu baruku.
Tuhan…dari pada kamu mematikan seseorang lalu harus menciptakan manusia baru, kenapa tidak kamu jaga saja apa yang sudah ada?

Nah dari situ, sayapun bertanya pada Hakim tentang apa yang ingin dia sampaikan pada Tuhan. Wah…ternyata sangat bervariasi, dari mulai yang sangat kanak-kanak banget sampai pertanyaan yang cukup filosofis. Ini, saya tulis sesuai urutan waktu dia menyebutkan.

Kenapa Tuhan memberi manusia akal, tapi kepada hewan tidak?
Apa Tuhan faham bahasa kita?
Kenapa Tuhan tidak menciptkan dunia ini seperti surga saja, apa yang kita inginkan langsung terkabul?
Kenapa sih sebagian orang kok gak denger apa kata Tuhan?
Apakah Tuhan itu juga menangis?
Kenapa Tuhan menciptkan surga dan neraka?
Kenapa Tuhan mudah berteman dengan siapa saja, tapi aku aku kok gak?
Kenapa Tuhan bisa hidup tanpa makan dan minum?
Kenapa Tuhan memusnahkan Dinosaurus?
Kenapa kok ada sebagian manusia yang hidup susah, ada juga yang senang?
Tuhan itu suka warna apa sih?
Apa Quran itu ditulis Tuhan? Terus kenapa harus bahasa Arab?
Kenapa Tuhan menciptakan bentuk wajah manusia berbeda-beda, tapi hewan hanya satu bentuk? Misalnya wajah singa dimana-mana ya begitu.

Pertanyaan terakhir itu menarik, bisa jadi pintu masuk menjelaskan,
makanya setiap manusia itu unik. Kita tidak boleh memaksakan kesukaan kita pada orang lain.

Temen-temen yang punya anak atau murid, mungkin pernah melakukan hal yang sama. Coba deh didokumentasikan, bisa jadi bahan kisi-kisi kalau kita mau bercerita.

Resesnsi Buku The Road to Persia

Ini dia pemenang  ketiga resensi buku The Road To Persia yang pernah diadakan oleh Perpus UIN Yogya beberapa waktu lalu. Salah satu kebahagiaan penulis itu saat pesan yang ditulisnya, tertangkap baik oleh pembacanya. Dan di tulisan ini, saya merasa jiwa saya hadir di sini….eaa..viewimage

 

Merekam Jejak Negeri Para Penyair

 

Judul buku      :The  Road to Persia : Menelusuri Keindahan Iran yang Belum Terungkap

Penulis            :Afifah Ahmad

Penerbit          :Bunyan, Yogyakarta

Penyuting:      :M. Iqbal Dawami

Tebal buku      :216 halaman

Cetakan           :Pertama, 2013

Persensi          :Ahmad Danuji

 

Keindahan bumi Persia tidak hanya menyimpan kesejukan  serta tempat-tempat peninggalan sejarah yang indah dan megah. Tetapi,  di negeri ini pula para penyair Islam  termasyhur sepanjang sejarah lahir dan menciptakan karya-karya sastra melegenda dan mendunia.

Para penyair tersebut antara lain: Hafiz, Rumi, Firdowsi, Saadi dan Kayyam. Bahkan, menurut riwayat, seorang penyair Jerman, Goethe terkesima setelah membaca sajak-sajak Hafiz. Goethe berkesimpulan bahwa Hafiz layak mendapatkan predikat sebagai seorang  penyair tertinggi dalam sastra dunia. Kini, karya-karya mereka tersimpan rapi di ruang-ruang dekat pemakaman sang penyair. Hafiz dan Saadi  dimakamkan di Kota Shiraz, Fariduddin Attar dan Kayyam di Kota Nishapur, sedangkan Firdowsi di Kota Tus.

Buku yang berjudul gagah The Road to Persia: Menelusuri Keindahan Persia yang Belum Terungkap karya Afifah Ahmad  ini  termasuk buku yang sukses menarasikan Persia secara mendalam. Dalam artian, isi dalam buku ini tidak sekedar memberikan informasi tempat-tempat menarik dari Persia, seperti: misteri kemegahan Persepolis, romantisme taman-taman penyair, keagungan kubah emas, Bundaran Isfahan, Pasar Bazar Tabriz,  Karya Afifah bukan mengulas demikian, penulis  menyadari informasi seperti itu sangat mudah ditemukan dalam dunia maya ( baca internet).

Karya Afifah ini sebenarnya hampir mirip dengan karya Orhan Pamuk yang berjudul Istanbul Kenangan Sebuah Kota. Bedanya jika Orhan Pamuk menjadikan Turki sebagai objek penulisan, sedangkan Afifah Persia ( Iran ). Kedua penulis ini terbilang sukses dalam menulis dua negara ini, Orhan, Turki dan Afifah Persia. Pun keduanya dalam menarasikan sama-sama menggunakan bahasa sastrawi  sehingga mudah untuk di baca. Hanya saja, karena Orhan punya keterikatan secara historis dan sosiologis dengan Turki, karena semasa kecil pernah tinggal dan menetap, Istanbul Orhan lebih luas bidang  cakupannya di bandingkan karya Afifah ini.

Sungguhpun demikian, karya Afifah tidak kalah menarik dengan Istanbulnya Orhan Pamuk, dalam buku ini Afifah berhasil menguak  dealektika barat dan timur ihwal kesusastraan. Gila! terekam dalam buku ini, Seorang penyair Jerman Gothe tergila-gila dengan syair-syair Hafiz ,  West-Eastren Divan, Hafiz Nameh ( Surat Untuk Hafiz ) , Uschk Nameh ( Surat Cinta ), Hegire (hijrah ) merupakan karya-karya Goethe yang banyak terispirasi dari Hafiz. Pun dalam sedikit karyanya Goethe menyematkan ide-ide  Hafiz, terutama nuansa spritualisme khas penyair timur.  Karya Hegire misalkan, bermuatan mengajak masyarakat barat untuk belajar dari kearifan timur agar tidak terjerat dengan jebakan matrealisme. (hlm 80).

Seperti halnya Hafiz, buku ini juga merekam jejak Rubaiat Kayyam yang sukses lewat karyanya yang mempesona “ Rubaiat” juga memiliki pengaruh dalam sastra dunia, Edward Fitzgerald di masa Ratu Victoria misalkan,  pernah mendapat tugas untuk menerjemahkan karya Kayyam dalam Bahasa Inggris. Rubaiat pun menjadi konsumsi masyarakat dunia secara luas.

Galibnya para penyair timur, karya-karya puisi mereka memang di tulis bukan untuk  di nikmati telinga masyarakat di zamannya, tetapi melintas dari penjuru zaman. Dalam sajak-saja mereka sedikit banyak juga membicarakan tentang nilai-nilai yang sifatnya universal, seperti kemanusiaan, keadilan, dan cinta kasih. Nilai-nilai inilah yang membuat sajak-sajak mereka bisa diterima oleh semua kalangan, bukan hanya masyarakat Persia, tetapi masyarakat dunia  seperti terekam dalam buku ini.  lihat misalkan petikan bait  puisi saadi ini,” Anak adam satu badan satu jiwa, tercipta dari asal yang sama bila satu anggota terluka, semua merasa terluka, kau yang tak sedih atas luka manusia, tak layak menyandang gelar manusia”.  Bait puisi saadi ini di sematkan di gendung PBB sebagai lambang kasih sayang umat manusia.

Menurut Afifah, tradisi menulis puisi sudah membumi di masayarakat Persia. Puisi tidak hanya milik cendekiawan, tetapi puisi miliki semua lapisan masyarakat. Puisi sudah menjadi bagian dari tradsi dari masyarakat Persia yang lestari. Jika Bangsa Italia besar dengan opera,maka  Bangsa Persia tumbuh bersama syair. Hampir disetiap rumah  dapat kita jumpai divan hafiz ( buku puisi). Ibu-ibu rumah tangga, para dai,  lihai menghafalkan baris-baris puisi  serta menuliskannya. Puisi adalah nafas bagi kehidupan masyarakat Persia

Secara garis besar karya Afifah ini mengulas tiga bagian pokok. Pertama, tempat-tempat peninggalakan sejarah,  seperti: keindahan reruntuhan Persepolis, sejarah Pasar Bazar Tabriz serta eksotisme rumah-rumah klasik di Khasa. Kedua, merekam jejak peninggalan para penyair Persia beserta karya-karya mereka. Dalam bagian inipula diulas mengenai warisan-warisan Ibnu Sina ihwa keilmuan modern, seperti metode pembedahan.  Ketiga,  merekam keindahan desa-desa pedalaman Persia. Semua bab  ini diulas Afifah dengan bahasa yang renyah dengan bumbu bahasa sastrawi akan memudahkan para pembacanya untuk menyelam lebih dalam kealam Persia.

Arti penting kehadiran buku ini adalah upayanya  dalam menguak produktifitas ilmuan muslim dalam penciptakan karya-karya yang mendunia dan bagaimana relasi antara barat dan timut terjalin dalam bingkai ilmu pengetahuan. Selanjutnya marilah kita teruskan etos para ilmuan ini dengan kerja nyata, yakni dengan berkarya dan berkerja. Kalau bukan kita, siapa lagi?.

Peresensi adalah Mahasiswa Jinayah Siyasah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. 

Mengenal Diri ala Rumi

Selasa, 10 Februari 2015

Depan gedung teater Golhak

Depan gedung teater Golhak

Hujan. Sejak kapan ia membuatku resah. Belum lama ini saya ‘ngrasani’ hujan di Tehran yang seperti gadis pemalu, cepat datang lalu tiba-tiba menghilang. Hari itu ia datang tak henti-hentinya, seolah ingin membuktikan dugaan keliruku. Manusia memang seringkali hanya bisa menduga-duga. Kutatap kembali rinai itu dari balik jendela. Lebih dari dua jam, ia setia mencumbui tanah dan pepohonan.

“Sudah telpon taksi aja dari pada kehujanan” Suara suami dari ruang tamu, seperti membaca keresahan yang sedang menderaku.

“Percuma yah, bakalan macet. Belum lagi jalanan yang licin” Jawabku masih menghadap ke arah jendela.

“Memangnya kamu masih punya waktu?”

Saya menggeleng tak yakin.

“Kalau gitu naik taksi sampe Eramsabz aja, lumayan bisa menghemat waktu”

“Hm…iya juga ya”

***

Hujan ternyata belum juga reda saat saya berada dalam metro. Para penumpang yang baru naik mengibaskan tangan mereka pada jas basahnya. “Ah tenang saja, perjalanan masih panjang. Nanti juga pasti reda” Gumamku menghibur diri. Lagi-lagi dugaanku meleset. Dua halte mendekati tujuan, masih terlihat para penumpang menenteng payung basah. Sialnya, ada pengumuman kalau metro ini tidak akan turun di halte Golhak, tempat tujuanku. Pada detik-detik terakhir, saya melompat turun di halte Dr. Syariati.

Di sini, hujan terasa lebih deras. Saya tak segera beranjak dari halte. Seorang bapak tua yang berdiri di depan pintu halte, berkali-kali menawarkan taksi kepada para penumpang. Namun ia malah dikerubungi orang yang bertanya alamat. Dengan telaten ditunjukannya satu persatu. Saya tergerak untuk berbagi rejeki dengannya, dari pada naik angkot dan masih harus berjalan masuk gang. Kusebutkan sebuah alamat, iapun dengan sumringah melajukan mobilnya, membelah hujan.

Ruang tunggu teater

Ruang tunggu teater

Duduk di ruang tunggu teater Golhak. Pintu ruangan belum dibuka. Sudah ada beberapa peserta yang lebih awal datang. Bahagia akhirnya bisa menghadiri kelas ini lagi, setelah melawan cuaca tak bersahabat dan rasa malas yang menggelayut. Kelas Agha Shahbazi ini sangat menyenangkan, materi berat jadi terasa ringan. Emak-emak ubanan yang bahasa farsinya ngepas seperti saya saja bisa ngangguk-ngangguk. Tema pertemuan saat ini: MENGENAL DIRI.

Peta Diri

Peta Diri

 

pembahasan penting

Agha Shahbazi kali ini memberi kejutan harta karun berupa PETA DIRI. Kalau dulu, saya belajar kedirian sepotong-sepotong, peta ini memberi gambaran holistik tentang bagaimana jika kita ingin mengenal diri. Ia berjanji akan memfasilitasi 10 kali pertemuan khusus untuk tema ini. Pembahasan dilanjut dengan mengurai point-point penting MENGENAL DIRI MENURUT RUMI.

 

Poin-poin penting Mengenal Diri

Poin Pertama: Menurut Rumi, mengenal diri itu sangat penting. Seandainya kita melakukan banyak hal di dunia, mempelajari dan menguasai sejumlah ilmu, tapi kita lalai dan  tidak memberi prioritas pada persoalan mengenal diri, hidup kita menjadi sia-sia. Karena tujuan penciptaan manusia sendiri untuk menguak siapa diri dan apa tugasnya di dunia.

Poin kedua: Manusia memiliki potensi yang luar biasa dalam dirinya. Bila ia dapat mengoptimalkan seluruh potensi itu, ia akan mampu melepaskan dari segala ketergantungan di luar dirinya. Misalnya, saat manusia merasa galau dan sedih, seringkali yang ia lakukan adalah lari dan mencari perlindungan di luar dirinya, seperti nonton, ngemall, bercanda dengan teman. Padahal, bisa jadi galau adalah sebentuk alarm bahwa ada yang tak beres dalam perencanaan hidup kita. Yang seharusnya dilakukan, intropeksi dan perenungan yang dalam, berdialog dengan hati kecil kita.

Poin ketiga: Manusia hanya memiliki satu man (ego) sejati, sedangkan mungkin ada  ratusan atau bahkan ribuan (ego)  palsu. Ego palsu ini mucul karena berbagai faktor:

  •  Kehidupan sosial, seringkali menuntut seseorang untuk menyembunyikan ego sejatinya. Karena bila ia diabaikan, bisa memunculkan konflik sosial. Sehingga kita terpaksa menutupi ego asli kita, dan kalau ini dilakukan secara terus menerus, akan terjadi jarak antara diri kita dan ego sejati. Pada akhirnya, kita menjadi salah mengenal diri kita yang sesuangguhnya.

 

  • Persepsi orang lain, pujian dan sanjungan yang berlebihan, perlahan akan membentuk gambaran dalam benak kita, bahwa seperti itulah kita. Lalu kita akan mulai menjalani hidup dengan ego buatan hasil persepsi itu. Dengan begitu, kita keliru mengenal diri kita yang sebenarnya. Misalnya, seorang mengatakan bahwa kita kaya. Lalu mulailah kita mengumpulkan berbagai benda mahal hanya sekedar meneguhkan bahwa kita benar-benar kaya. Untuk bisa mendekati ego sejati, sebisa mungkin kita tidak hidup karena persepsi orang lain.

 

  •  Kita kerapkali keliru mengenali kita yang sesangguhnya dengan kepemilikan atau sesuatu yang melekat pada diri kita. Misalnya, jabatan dan kekayaan. Seringkali para pejabat lupa diri merasa hebat dan dikelilingi orang banyak, karena dirinya hebat. Padahal, bisa jadi orang mendekatinya karena jabatan yang melekat. Sehingga ia tak lagi dapat memisahkan dirinya dengan status jabatan yang hanya sementara. Ia menganggap dirinya besar dan bisa melakukan banyak hal.

 

Lalu bagaimana cara kita membedakan (ego) asli dan (ego) palsu:

  • Menerima kritikan. Manusia yang sudah mencapai ego sejati, akan lapang dada menerima segala kritikan dan lebih bisa menahan diri.
  • Tidak perlu peneguhan orang lain. Ego sejati itu bekerja pada wilayah ketulusan, maka dia tidak butuh peneguhan dan penilaian orang lain.
  • Selalu merasa jauh dari sempurna. Manusia yang sudah mengenali ego sejatinya, meskipun tujuan utamanya adalah menuju kesempuranaan, tapi dia selalu merasa dirinya jauh dari kesempuranaan. Sehingga rutin melakukan evaluasi atas apa yang diperbuatnya.

 

Poin keempat: Selalu ada kontradiksi dalam diri manusia, karena ia memiliki potensi malakuti dan kebinatangan sekaligus. Dua sisi ini saling terik menarik, kadang cenderung melangit, di lain waktu seperti terhempas ke dasar bumi. Tapi, begitulah seni hidup terindah, bagaimana kita terus menerus berproses dengan iringan kecemasan sekaligus harapan.

Poin kelima: Menyadari dan mengenali adanya potensi keburukan dalam diri manusia, seperti tabiat manusia yang selalu khilaf, takut, tamak, dan lain-lain. Ini sangat penting, karena dengan mengenali potensi negatif tersebut, manusia cenderung akan lebih berahati-hati dan terus menerus berusaha untuk melemahkannya. Pada sisi lain, dalam memperlakukan orang lain juga tidak tergesa menghakimi, karena setiap manusia punya peluang khilaf, sama seperti dirinya.

Menurut Rumi, mereka yang berada di jalan mengenal diri, akan memiliki kebijaksanaan semesta seperti: mampu mengontrol emosi, punya jati diri, lebih toleran, tidak cepat menghakimi, dan terutama perantara untuk mengenal Tuhan lebih jauh.

Catatan Kelas Rumi 1 : Pelajaran Mencinta

musik 1

Suara instrument setar perlahan menghilang, bersama iringan langkahku yang kian menjauh dari gedung teater Golhak. Selepas mengikuti kelas seri Rumi, saya langsung berkemas pulang. Terpaksa kutinggalkan pertunjukan solo musik tradisonal yang biasa digelar usai kelas, karena kuatir kemalaman. Saya gegas berjalan menuju halte metro terdekat di kawasan Dr Syariati. Tidak perlu menanti lama, metro yang ditunggu cepat datang dan melesat kembali, membelah lorong-lorong sunyi. Semua bangku penuh terisi. Saya menepi dan duduk ndeprok (bahasa Indonesianya apa ya?) di sudut metro bersama beberapa penumpang lain. Butuh waktu 1,5 jam untuk bisa sampai rumah dengan dua kali ganti line. metro Suara setar kini tergantikan oleh riuh rendah pedagang yang berlomba memamerkan dagangannya. Petikan lagu cinta Tanah Sisir yang mengalir dari earphone, perlahan meredam kegaduhan di luar.

Cinta yang baik…

Menumbuhkan pepohonan

Menyembuhkan luka

Merawat tanah, air, udara

Menjaga kita indah sebagai manusia

Merawat damai, menjaga hidup indah

Terngiang kembali suara Agha Shahbazi, dosen sastra dan irfan yang baru saja mengisi kelas Rumi. Tema yang diangkat kali ini tentang “Cinta Menurut Rumi”. agha shahbazi C.I. N. T. A. Entah sudah berapa banyak film, musik, buku, dan teater yang digerakkan oleh tema cinta. Tapi sesungguhnya apa itu cinta? Bagimana Rumi memaknai cinta? Sebelum membahas lebih jauh, Agha Shahbazi membagi cinta dengan cara yang sistematis. Pembagian ini untuk memudahkan arah pembicaraan, bagian cinta mana yang dimaksud. Terus terang, pembagian seperti ini, belum pernah saya dengar sebelumnya.

Menurutnya, secara umum ada tiga cinta: Pertama, cinta Tuhan (Cinta Tuhan pada diriNya, cinta Tuhan pada manusia dan alam secara umum, dan cinta Tuhan kepada manusia terpilih secara khusus). Kedua, cinta alam semesta (cinta semesta pada Tuhan dan cinta semesta pada sesamanya juga manusia). Ketiga, cinta manusia (cinta manusia pada Tuhan, cinta manusia pada dirinya, cinta manusia pada alam, dan cinta manusia pada sesamanya). Tentu, butuh pertemuan berpuluh kali untuk bisa mempreteli satu per satu. Tapi, Pak Shahbazi memberikan penjelasan singkat yang memudahkan.

Relasi antara cinta Tuhan, manusia, dan alam ini sangat menarik. Bagaimana Tuhan menggerakkan semesta dan alam untuk saling mencintai. Kalau cinta manusia pada alam, tentu jelas. Cinta alam kepada Tuhan pun sudah sering kita dengar, misalnya di dalam surat Isra ayat 111, bagaimana seluruh partikel di alam ini bertasbih kepadaNya. Lalu bagaimana gambaran, cinta alam kepada manusia?

Menurut Agha Shahbazi, sebenarnya makhluk di alam ini juga saling mencintai, begitu juga alam kepada manusia. Banyak cerita dan kebijaksanaan para leluhur yang kita dengar. Misalnya air yang mengalir selalu mencari mereka yang kehausan. Roti dan beras yang kita makan, mengambil tempat dalam sel darah kita. Mungkin, ini pula alasan orang-orang salih, begitu menjaga apa yang dimakan dan dipakainya. Alam sebenarnya tengah melaksanakan tugasnya dalam mencinta. Hanya saja, manusia seringkali tidak menyadarinya. Salah satu dampak modernitas adalah merenggut hubungan intim antara manusia dan alam. Kita tidak lagi peka menangkap isyarat alam.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana penjelasan cinta Tuhan kepada seluruh manusia yang berbuat baik maupun yang tidak? Relasi ini bisa diibaratkan sebagai cinta pencipta pada hasil ciptaannya. Seniman yang membuat lukisan, kriya, dan lainnya akan memiliki hubungan sangat personal dengan hasil karyanya. Begitu juga Tuhan dengan ciptaannya.

Agha Shahbazi membawakan sebuah cerita, jaman dahulu ada seorang Nabi yang mengajak kaumnya untuk berbuat kebaikan. Ia sudah melakukan berbagai cara, tapi belum juga berhasil. Sang Nabi pun mengadu pada Tuhan dan meminta agar kaumnya dimusnahkan. Tuhan memerintahkan Nabi itu untuk membuat perkakas keramik dari tanah liat. Setelah melewati proses panjang, perkakas keramik siap digunakan. Namun tiba-tiba angin kencang datang meluluhlantahkan semuanya. Nabi tadi sedih dan kecewa. Lalu Tuhan berfirman, begitulah kenapa aku tidak segera menghancurkan umatmu. Biasanya, azab Allah itu datang bila umat melampaui batas dan sudah diperingatkan berkali-kali.

Saya pun bertanya dalam hati, bila Tuhan saja sangat berhati-hati menghukum manusia, lalu bagaimana mungkin ada manusia yang melampaui tugas Tuhan dengan mencaci, mengkafirkan, memfitnah, apalagi (maaf) melukai sesama karena alasan beda keyakinan? Tentu kita boleh mengkritik dan tidak setuju dengan sikap dan pendapatnya, tapi harga diri dia sebagai manusia tak layak kita cederai.

Pembahasan semakin mengerucut pada relasi cinta antara sesama manusia. Agha Shahbazi tidak masuk melalui tiga tahapan cinta: eros, phillia, dan agape yang biasanya menjadi pembicaraan dalam filsafat cinta. Tapi, ia membagi relasi cinta antar manusia lebih kongkrit, misalnya cinta karena pertalian darah (missal cinta ibu terhadap anak), cinta karena kebangsaan, cinta persahabatan, cinta pasangan lawan jenis (misalnya suami-istri), cinta utopis, dan lain-lain.

Dari seluruh ragam cinta, ada satu cinta yang unik, unconditional love. Cinta ini berlandaskan pada asas kemanusiaan. Ia memiliki dua ciri khas yang melekat. Pertama, tak bersyarat, tidak mengharap imbalan apapun dari orang yang kita cintai. Kedua, Universal, cinta itu bukan milik orang tertentu, bisa jadi yang kita cintai tidak ada hubungan darah, bukan sebangsa, bahkan mungkin berbeda keyakinan, tapi ada keinginan kuat untuk berbagi. Dalam bait-bait syairnya, Rumi banyak menyinggung jenis cinta ini.

Saya pernah menyaksikan langsung ibu-ibu di Teheran yang menggendong putrinya, berjalan tengah hari musim panas di bulan Ramadhan. Panas yang menampar dan rasa haus tak dihiraukannya demi mengikuti acara solidaritas rakyat Gaza. Atau cerita legendaries Rachel, gadis non muslim yang dilindas Buldoser, karena tekadnya untuk menolong rakyat Palestina. Mungkin secara nalar kita sulit mempercayai, tapi dengan cinta semuanya sangat mungkin terjadi. Cinta sejati menyimpan wataknya sendiri. Ia menumbuhkan keberanian sekaligus menggerakkan.

“Mari kita belajar mencintai sesama secara tulus, mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita. Ringankan tangan kita saat ada yang memerlukan bantuan” Kata Agha Shahbazi mengakhiri kalimatnya. Inilah cinta yang oleh Rumi disebutkan sebagai jalan terdekat untuk menggapai cinta Tuhan.

Bantulah sesamamu, agar Tuhan meridhaimu

Dan jiwamupun menggapai telaga ketenangan

Kawanmu akan menyayangi dan melindungimu

Dan hatimupun tak lagi berselimut kecemasan

(Buku ke 4 Masnawi, bait ke 1980-1981)

Pesan Rumi ini, tentunya mengambil inspirasi dari Quran, surat Qashash ayat 77: “Berbuat baiklah kepada makhluk sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu” Metro masih berlari cepat, singgah dari satu halte ke halte lain. Penumpang naik dan turun. Sementara saya masih setia dengan lantunan Lagu Cinta yang kian terasa merdu….

 Cinta yang baik……..

Menjaga kita indah sebagai manusia

Merawat damai, menjaga hidup indah

 

Memaknai Hidup Menurut Rumi

foto seminar

Jam di ponsel saya menunjukkan angka 20.15. Ini terbilang malam untuk ukuran musim dingin. Bus bergerak cepat membelah jalan Karegar. Di luar, toko-toko bersiap tutup. Trotoar pun mulai sepi dari pejalan kaki. Di bus ini, hanya tersisa beberapa penumpang. Jarang sekali, saya melihat denyut Teheran di malam hari. Kalau bukan karena seminar Rumi yang sudah lama saya cari, rasanya tak mungkin berkeliaran sendiri malam hari. Apalagi, tema seminar ini terdengar cukup menarik: “Membedah makna hidup menurut Rumi”

“Penjelasan tentang makna hidup, bertahun-tahun menjadi sejarah panjang perdebatan para filsuf. Kalau kita dapat menemukan jawaban masalah ini, ada banyak persoalan yang bisa terselesaikan”

Suara berat namun berwibawa pak Malikian, profesor sastra dan irfan yang mumpuni, menyedot perhatian hadirin. Seluruh kursi di aula penuh, bahkan banyak yang berdiri di sudu-sudut ruangan. Sejak pintu aula belum dibuka, peserta sudah berjejalan di lobi gedung Evan-e Shams, Amirabad.

“Perdebatan dimulai sejak menentukan apa imaji manusia tentang hidup? Ada yang mengibaratkan seperti burung dalam sangkar. Ada yang berpendapat seperti tahanan dalam penjara. Ada juga yang mengilustrasikan seperti orang yang sedang bercermin. Lalu bagaimana imaji hidup menurut Rumi?”

Sepertinya pembahasan mulai menarik. Pak Malikian, membuka buku bersampul hitam tebal kumpulan puisi Rumi lalu membackan beberapa bait. Dengan rambut putihnya yang berkilauan diterpa cahaya ruangan, tak menghalanginya bersuara lantang bak penyair.

Bait-bait yang dipilih Pak Malikian dan banyak syair Rumi lainnya membawa kesimpulan bahwa Rumi menggambarkan:
***Hidup manusia di dunia, ibarat seorang pecinta di negeri terasing, ia terpisah dengan yang dicintainya ***

Pertanyaannya kemudian, mengapa si pecinta berjauahan? Bukankah pecinta ingin selalu berada dekat dengan yang dicintainya? Apakah keterpisahan ini membawa kebaikan bagi si pecinta? Pada bait-bait Rumi lainnya, Pak Malikian membedah jawaban itu. Tuhan sebagai yang dicintai memberi kesempatan kepada manusia untuk melakukan perjalanan. Sekembali dari safar, diharapkan si pecinta akan lebih matang dan memiliki bekal yang cukup untuk mencinta.

Pembahasan mulai terasa ngawang buat saya. Untungnya pemateri banyak memberikan ilustrasi, terutama saat menjelaskan 10 alasan yang menguatkan pendapat Rumi (tentang pecinta di tanah safar). Beberapa alasan itu antara lain: musafir selalu rindu pulang, ada rasa cemas dan terasing, serta memerlukan penunjuk jalan.

Ah..jadi ingat petualangan sebelum tadi saya naik bus. Karena ingin memotong jalan, saya melewati gang-gang di kawasan Amirabad yang tembus ke arah halte bus Karegar, sesuai petunjuk peta offline. Anehnya, sudah keluar masuk gang, tak kunjung juga menemukan jalan besar. Rasa lelah dan dingin beraduk.Gang ini terasa gelap dan sepi, mungkin juga karena tempat ini asing bagi saya. Apalagi saat melewati pasar sayuran yang sudah tutup. Hanya tersisa gundukan sampah, beberapa mobil bak, dan gelak tawa pekerja imigran. Bohong kalau saya katakan tidak takut. Ada kecemasan hebat melanda. Tapi, saya beranikan diri untuk bertanya pada satpam di pasar itu. Ia memberi petunjuk untuk terus lurus. Benar saja. Tidak lama terlihat sorotan lampu-lampu pertokoan.

Barangkali, penafsiran Rumi tentang hidup manusia di dunia juga seperti itu. Sang pecinta sejati akan selalu bersiap kapanpun waktunya pulang, bahkan jauh hari sudah merindukan Tuhan. Jiwa pecinta sejati merasa tak tenang di tempat pengasingan, karena menyadari tentang semua kesementaraan dunia. Sang pecinta akan selalu mencari penunjuk jalan berupa Nabi dan orang-orang shalih sepanjang sejarah. Bagi pecinta sejati, hadiah atau pun teguran dari yang dikasihinya bukanlah tujuan. Surga dan neraka tidak lagi begitu penting. Sang pecinta……

“Khanom, kita sudah tiba di Isghah Enqelab”

Ibu muda yang duduk di sebelah saya, mengingatkan kalau bus sudah tiba di pemberhentian terakhir. Di bundaran Enqelab suasana masih terlihat ramai. Saya berjalan sebentar ke arah halte metro, membeli tiket, lalu naik line yang menuju Eram Sabz. Hati saya sudah jauh lebih tenang. Dari Eram Sabz, hanya perlu naik angkot 5 menit sampai ke rumah.

Jam 9 lewat, saya tiba di depan pintu rumah. Ah…betapa bahagianya, kembali ke rumah, melihat Mehdi sedang mengerjakan tugas sekolah, ditemani suami yang terkantuk-kantuk membaca buku barunya. Mungkin, begitu juga kebahagiaan para pecinta sejati saat akan bertemu dengan kampung abadi.

Mengenal Tuhan di Bulan Surga: Oleh-oleh Pameran Buku Teheran

Memasuki stand anak

Memasuki stand anak

Ordibehehesht, bulan surga. Begitulah orang Iran menyebut bulan kedua di musim semi. Angin semilir dan matahari hangat membuat orang betah berlama-lama di luar rumah. Tapi, kepadatan manusia siang itu membuat angin seolah tak berhembus dan sinar matahari terasa lebih garang. Mereka berdesakan mencari surga lain, surga buku. Ya, pameran buku internasional Teheran memang selalu digelar di bulan kedua musim semi, atau bulan Mei seperti sekarang ini.

Kepadatan mulai terlihat sejak di pintu keluar metro Mushalla Imam. Lautan manusia kian terlihat membludak di pintu masuk, siap memadati lorong-lorong stand. Ada lebih dari 2000 penerbit luar dan dan dalam negeri di ajang pameran buku ke 27 kali ini. Beberapa petugas terlihat membagikan peta lokasi. Namun, area yang sangat luas dengan ribuan penerbit, membuat pengunjung harus pintar-pintar mengatur prioritas. Untungnya, di halaman utama gedung pameran, dibangun ruangan besar bertenda. Dari kejauhan terlihat tulisan, Salan (Aula) Yas.

Aula Yas ini, semacam ruang katalog yang memuat buku-buku terpopuler dan terpilih tahun ini. Pengaturan tempatnya pun sudah berdasarkan tema, dari filsafat, agama, sosial, politik, sastra, juga anak. Bila tahun-tahun sebelumnya, saya sering merasa kelelahan sebelum sempat mendapat buku yang dicari. Sekarang, dengan adanya ruangan katalog seperti ini, pengunjung sangat terbantu. Karena buku yang saya cari genre anak-anak, saya langsung melangkah ke bagian anak.

Pameran buku-2

Rasanya seperti gayung bersambut. Buku-buku yang kebetulan saya cari, hampir tersaji semua di depan mata. Buku-buku mengenal Tuhan untuk anak-anak dengan ilustrasi yang sangat menarik.

Akhir-akhir ini, putra saya sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan filosofis. Mulai dari “Kenapa Tuhan menciptakan manusia cacat?” “Kok Allah membuatku laki-laki, bukan perempuan?” “Mengapa harus ada gunung meletus dan gempa? Kan kasian banyak orang mati” “Kemana kita kalau sudah mati?” Dan pertanyaan lainnya. Semua itu, membuat saya kembali berpikir mencari jawaban alternatif yang pas dan bisa diterima anak-anak. Dan buku dengan ilustrasi bagus, akan lebih cepat membantu memberikan pemahaman pada anak.

Tidak hanya saya yang langsung jatuh cinta, putra saya pun semangat sekali minta dibelikan. Petugas dengan ramah menghampiri kami. Ia menjelaskan, stand ini tidak melayani pembelian. Kami harus mengunjungi stand penerbitnya langsung, di bagian anak-anak. Stand buku anak sendiri tidak kecil. Ada puluhan penerbit yang khusus menerbitkan buku-buku anak. Berkelililing satu putaran saja, kaki sudah terasa pegal. Sambil melihat-lihat stand buku lainnya, saya terus mengingat judul buku dan nama penerbitnya.

Begitu tiba di depan stand yang dimaksud, saya langsung dibuat terpana oleh tulisan besar-besar yang terpampang di bagian atas. “Khane-e Khoda Shenashi Kudakan” Kira-kira terjemahnya, rumah tempat anak-anak  mengenal Tuhan. Dari penamaannya saja sudah menarik minat pengunjung. Benar saja, di dalam ruangan pengunjung tak henti terus berdatangan. Saya sendiri cukup terpana melihat ada hampir 100 buku anak yang bertema khusus ketuhanan. Lini penerbit anak ini memang sangat fokus.

Sebelum kalap melihat buku-buku bagus itu, saya segera menyeleksi beberapa yang memang saya perlukan. Ada buku seri mengenal Tuhan bilingual (farsi dan inggris) yang cukup menarik. Bukunya tipis tapi full color dengan gaya penuturan yang menyenangkan. Asyiknya lagi, buku-buku ini juga mengajarkan anak untuk memahami agama secara inklusif. Misalnya pada seri Speak with God, anak-anak diajak untuk safar imajiner ke berbagai negara. “Kalau kamu pergi ke Jerman. Di sana, kamu juga akan melihat anak kecil yang berdoa dan memanggil Tuhan dengan bahasa Jerman” Dengan begitu, anak-anak bisa belajar, bahwa Tuhan itu juga milik semua orang di seluruh dunia.

Stand khusus mengenalkan Tuhan pada anak-anak

Stand khusus mengenalkan Tuhan pada anak-anak

Ada buku lain juga yang sangat menarik minat saya, judulnya: Khoda Ci, Kie, Ku? (Tuhan itu, Apa, Siapa, Dimana?). Ternyata, saat mengantri di kasir, saya perhatikan rata-rata pengunjung membeli buku ini. Ukuran bukunya memang besar dengan sampul mewah. Tapi, daya tarik buku sebenarnya ada pada isi. Buku ini memuat 20 pertanyaan menarik tentang Tuhan dalam bahasa syair yang berirama, sehingga lebih melekat di hati anak. Di halaman samping juga diberikan penjelasan dengan perumpamaan yang mudah dimengerti anak.

Misalnya, untuk menjelaskan bahwa Tuhan itu ada di semua tempat, penulis berilustrasi: “Seandainya oksigen itu hanya ada di rumah, kita harus selalu di rumah dong. Kalau kita keluar rumah, sudah barang tentu kita gak bisa bernafas. Untunglah, oksigen itu ada di rumah dan ada di semua tempat. Begitu juga Tuhan itu ada di semua tempat”

Rasanya saya tidak ingin beranjak keluar berada diantara buku-buku anak  yang bagus dengan harga yang masih terjangkau. Benar-benar surga buku anak. Di sini, beberapa buku genre khusus memang masih disubsidi oleh pemerintah, seperti harga buku pelajaran dan buku anak Islam. Sehingga penerbit bisa membayar tinggi penulis tapi harga jual buku tetap terjangkau. Semoga ini menginspirasi dunia penerbitan di tanah air. Mengingat betapa pentingnya menanamkan nilai-nilai ketauhidan sedini mungkin. Terlebih sekarang ini, ketika kerusakan morak dan akhlak kian meraja lela di depan mata kita.

pameran-4

*Tulisan ini pernah dimuat di Liputan Islam

Sejauhmana Kita Menyiapkan Pendidikan Anak?

Beberapa hari lalu, saya ikut acara seminar parenting di sekolahnya Mehdi. Seminarnya gratis, karena diadakan di halaman sekolah. Sederhana, tapi cukup berkesan. Pematrinya Agha Jamshidiyan, pakar psikologi sekaligus dosen senior. Agha Jamshid memulai dengan pertanyaan yang mengejutkan peserta:

“Siapa diantara Anda di sini, yang sudah mempersiapkan anak Anda untuk 20 tahun ke depan?”

Peserta satupun gak ada yang angkat tangan, mungkin masih menebak arah pertanyaan pemateri. Agha Jamsyid akhirnya meneruskan pembicaraannya.

“Jika ingin anak Anda sukses, sebaiknya Anda menyiapkan pendidikannya untuk 20 tahun ke depan”

Tentu yang dimaksud persiapan oleh Ahga Jamshid, tidak hanya menyiapkan uang sekolah dan memilihkan tempat belajar. Itu penting.

Tapi yang lebih penting adalah menyiapkan karakter anak sejak dini. Karena, kata Agha Jamshid, mau jadi apapun anak kita, mereka perlu dibekali dengan karakter-karakter dasar dan universal, seperti mandiri, percaya diri, dan berpikir kritis.

Sebenarnya materi pendidikan karakter seperti ini sudah sangat akrab dengan kita, apalagi bagi yang biasa mengikuti perkembangan ilmu parenting. Tapi, tidak ada salahnya kembali dituliskan, sebagai pengingat untuk saya, syukur kalau bermanfaat juga buat teman- teman.

Hm….karena materinya puanjaang, saya ambil beberapa point penting aja ya.

* Seringkali para Ibu bangga, karena merasa sudah jadi superman bagi anaknya. Dari sejak bangun sampai malam, ibu menyiapkan semua keperluan anaknya, membersihkan kamar, memandikan sampai menyuapi. Alih- alih, ibu melakukan yang terbaik buat anaknya, ternyata para Ibu malah tidak mengajarkan anak untuk mandiri.

” Udah sana, kerjain PR aja. Biar Ibu yang beresin kamarmu!” “Biar gak telat ke sekolah, Ibu suapin aja ya”

Hwa…saya sering seperti ini hiks..Tapi belakangan sudah mulai saya biasakan, membereskan kamar berdua, ikut mencuci piring, dan mulai mandi sendiri.

** Hasil penelitian menunjukkan, anak sudah mampu membuat pilihan sejak lahir. Coba perhatikan, seorang bayi menyusui yang lebih memilih bagian kanan saja atau sebaliknya kiri saja. Bayi merasa nyaman di bagian tertentu. Maka, iapun menentukan pilihan. Begitu juga saat ia terus tumbuh.

Tugas orang tua mengembangkan potensi itu dengan cara melibatkan anak sejak dini dalam berbagai keputusan penting. Tentu sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Misalnya, anak balita sudah bisa dilibatkan untuk memilih model sepatu, warna cat kamarnya, atau memilih mainan. Sebaiknya, dibuat waktu khusus untuk membicarakan masalah keluarga yang juga melibatkan si kecil.

*** Tidak berlebihan memberikan reward. Reward itu penting, tapi jangan terlalu sering yang bentuknya materi. Sebenarnya, ketika anak mendapat pujian atas pekerjaan yang dilakukannya, itu sudah sangat cukup membuat anak bahagia.

Hiks….ini juga, saya sering salah. “Nak, kerjain PR dulu, nanti boleh main XBOX” Seharusnya membiasakan kalimat seperti ini “Kalau ngerjain PR, Mehdi pinter banget deh”

Kalau anak dimanjakan dengan berbagai reward yang bukan pada tempatnya, di kemudian hari, ia akan melakukan sesuatu karena imbalan atau takut melakukan sesuatu karena hukuman.

Misalnya, ketika menyebrang jalan, dia tidak melangggar aturan karena takut didenda polisi. Nah, ketika tidak ada polisi, ia dengan nyaman akan melanggar dan tidak berfikir efek sosial yang lebih jauh. Padahal, kalau sampai terjadi kecelakaan, dia akan terluka bahkan bisa meninggal, keluarganya akan berkabung, pengendara harus membayar ganti rugi, dan jalanan menjadi macet. Akibat sosial yang ditimbulkan jauh lebih besar.

****Point penting lain yang disampaikan Agha Jamshid, tidak menjejali anak dengan berbagai pengetahuan yang berlebihan sehingga merenggut waktu bermainnya. Karena di kemudian hari ia akan mencapai titik jenuh dan mengalami penurunan semangat belajar.

Misalnya, banyak Ibu yang merasa anaknya memiliki potensi luar biasa, lalu memberikan berbagai asupan yang berlebihan. Jangan heran bila di kemudian hari, anak akan kehilangan motivasi belajar. Padahal, pengertian belajar yang sesungguhnya adalah seumur hidup.

*****Catatan terakhir yang cukup menarik adalah bila sejak bayi dibiasakan bangun sebelum subuh dan ‘diajak’ berdoa, ia kelak akan memiliki kematangan spiritual dan mental. Mungkin sudah banyak juga ya, buku2 yang mengupas kedua hubungan itu.

Dalam keseharian, temen-temen tentu sudah banyak yang melihat atau merasakan sendiri pengaruh bangun sebelum subuh dan tahajud buat kesehatan ruh kita hari itu. Apalagi memang yang sudah melakukan pembiasaan sejak kecil.

Tapi, ya itu tadi, prakteknya yang luar biasa sulit buat saya. Jangankan bangunkan si kecil, untuk merutinkan diri saja masih sulit hiks…. Ini PR besar buat saya.

Sekali lagi, saya menuliskan ini untuk memotivasi saya sendiri yang masih sering lalai mendampingi anak. Semoga juga bermanfaat buat teman- teman.

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Afifah Ahmad

Traveling, Sastra dan Catatan Harian

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

it's our day :)

learn, play, n love

Gumam

Farid Gaban's Blog

Rosi's Adventures

Selalu ada cerita dibalik sebuah cerita

CambaiMultiply

Dunia Kecil Dian Onasis

KASTEI YOGYAKARTA

Keluarga Alumni Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Yogyakarta

Hikmawan Saefullah

Just another WordPress.com site

...my inspiring notes...

... SAMPAIKANLAH WALAU HANYA SATU AYAT ...

Aminah Mustari's

notes.thoughts.works.ramdom life

Setapak Aksara

Kalau Kau Merasa Miskin, Jalan-Jalanlah!

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

catatan dari Persia

Refleksi Musafir di Tanah Persia